“Padahal, nenek moyang kita telah mewariskan petuah yang amat berharga: “Bahasa menunjukkan bangsa.” Apakah kita ingin menjadi bangsa yang permisif dengan memberikan ruang toleransi yang demikian luas terhadap keasalahan-kesalahan? Ataukah kita menerima saja keasalahan terus berlangsung hanya karena kita malas mempelajari sesuatu dengan benar?”

Membaca Alquran Jika kita melintasi jalan di Jakarta yang ada jalur khusus untuk bus angkutan massal Trans Jakarta, kita dapat melihat rambu larangan yang di bawahnya tertulis kata “kecuali bus way”. Kita juga sering mendengar orang berkata, “naik bus way”. Sepintas, tak ada yang salah dengan kata-kata itu, tetapi jika kita lebih cermat dalam mempertimbangkan maknanya, barulah menyadari bahwa di sana ada kekeliruan.

Kata bus way berarti ‘lajur khusus untuk bus’. Lalu, apa maksudnya menambahkan kata “kecuali bus way” pada rambu larangan pada lajur khusus itu? Barang kali lebih tepat pada rambu larangan ditambahkan kata “kecuali Trans Jakarta”. Demikian juga kata “naik bus way” lebih baik diganti dengan “naik bus Trans Jakarta”.

Kesalahan serupa itu juga dapat ditemukan pada kalimat berikut: “Aku mau ambil uang di bank, tapi ATM-ku ketinggalan. “ Bukankah ATM (Automatic Teller Machine diindonesiakan menjadi Anjungan Tunai Mandiri) itu ada di bank, mengapa bisa ketinggalan? Barangkali yang dimaksud dalam hal ini yang ketinggalan adalah kartu ATM-nya.

Bila kesalahan kecil seperti contoh-contoh di atas saya bicarakan dengan orang lain, sering kali saya mendapat komentar, “yang penting kan kita tahu maksudnya”. Ada pula yang berkomentar, ‘’Kok susah ya, berbahasa Indonesia?” Nah, komentar seperti itu bagi saya juga menarik untuk dikomentari lagi. Mengapa? Pertama, ungkapan ‘’yang penting tahu maksudnya” menandakan bahwa tidak ada kehendak untuk berubah ke arah yang lebih baik dalam berbahasa. Kedua, ungkapan tersebut juga merupakan ekspresi dari

‘’sikap TST (tahu sama tahu}”.

‘’Sikap TST” itu sendiri dapat dimaknai dari dua sisi: positif dan negatif. Dari sisi poistif, TST akan mengembangkan kekompakan dan toleransi, sedangkan dari negatif TST berarti menerima kesalahan sebagai sebuah kewajaran dan tak perlu diperbincangkan. Tanpa disadari kita telah terbiasa membiarkan kesalahan berlangsung tanpa koreksi. Jika terus berlanjut, hal tersebut dapat berkembang menjadi sikap kongkalikong atau persekongkolan. Gawat bukan? Dengan kata lain, sikap ‘’yang penting tahu maksudnya” secara negatif dapat diartikan kecenderungan mental menerima atau menyetujui persekongkolan.

Di sisi lain, komentar ‘’Kok susah ya, berbahasa Indonesia?” menunjukkan adanya keengganan untuk belajar bahasa yang benar. Padahal, nenek moyang kita telah mewariskan petuah yang amat berharga: “Bahasa menunjukkan bangsa.” Apakah kita ingin menjadi bangsa yang permisif dengan memberikan ruang toleransi yang demikian luas terhadap keasalahan-kesalahan? Ataukah kita menerima saja keasalahan terus berlangsung hanya karena kita malas mempelajari sesuatu dengan benar?

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanya bisa dijawab dengan kearifan. Akhirul kalam, mari kita memulai kebenaran dengan membiasakan diri berbahasa dengan benar. Saya sangat percaya, jika kita terbiasa berkata dengan benar, niscaya kita pun akan dapat berkata lantang ketika kita harus menyatakan kebenaran.
Sumber : AL-Izhar

Tahukah Anda bahwa Anda bisa juga membaca isi situs Jejak.Info melalui RSS feed? Terima kasih atas kunjungan Anda. Semoga isi situs ini bermanfaat.